Book of My Life

Lebih Baik Darinya – Rio Febrian

Posted in Uncategorized by ahmadsutanto on April 3, 2011

Lebih Baik Darinya – Rio Febrian
*courtesy of LirikLaguIndonesia.net


kau yang ada di sana
memberi isi hatiku
mengapa kau ada
saat kau telah terikat

* selalu ku coba
menepis harapan
namun kau tetap ada

reff: ijinkan aku memelukmu
dan mencumbu dirimu, cinta
mungkin kau tahu diriku
lebih baik darinya

ku tak persalahkan cinta
yang tlah datang
tak terduga

repeat *
repeat reff

lebih baik darinya

Bagaimana Kamu Melihat Hidup Ini?

Posted in Uncategorized by ahmadsutanto on October 14, 2010

Hidup ini adalah:

Hidup ini adalah panggung sandiwara karena dia seorang politikus

Hidup ini hanyalah sebuah permainan karena dia seorang gamer
Hidup ini selalu berhubungan dengan lari dan me-lari-kan diri karena dia pakai Nike+

Hidup ini adalah medan perang karena dia seorang prajurit

Hidup ini hanya berisi lelucon karena dia seorang pelawak

Hidup ini selalu berjalan dengan logika karena dia seorang programmer

Hidup ini penuh dengan peluang yang tak terduga karena dia seorang penjudi

Hidup ini adalah kumpulan melodi karena dia seorang musisi

Hidup ini harus dijalani karena kita sudah diciptakan di bumi ini

Entah seperti apa hidup ini akan berjalan. Semua tergantung pada diri masing-masing.

Tagged with: ,

Masa Kecilku di Desa (bagian 1 – Mencari Ikan)

Posted in Personal Issue by ahmadsutanto on February 28, 2010

Liburan selama 5 hari ini sepertinya sudah cukup untuk membangkitkan kembali memori-memori saat masih anak-anak. Memori masa-masa menyenangkan dan penuh kebebasan tanpa beban. Memori yang tidak akan terlupakan karena saya senang dan bangga menjadi anak desa.

Seperti yang telah saya sebutkan di atas, saya dilahirkan di sebuah desa kecil yang cukup terpelosok. Sebuah desa dengan sebutan “Kranggan” entah apa makna dari nama tersebut. Desa Kranggan ini kenapa saya katakan cukup pelosok? Faktanya adalah desa ini sangat dekat dengan sungai Progo dan juga dengan laut Selatan. Oleh karena itu bisa dibilang ujung selatan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Desa yang terpelosok ini ternyata menyimpan banyak hal yang sangat menarik untuk dijelajahi. Mungkin kalau dulu sudah ada “Bolang” mungkin masa kecil saya bisa dimasukkan dalam salah satu episodenya. Petualangan seorang bocah dengan beberapa temannya menjelajah daerahnya untuk menemukan kebahagiaan tinggal di desa atau hanya sekedar menghabiskan waktu di luar jam sekolah.

Salah satu hal yang paling senang saya lakukan dengan teman-teman saat kecil yaitu mencari ikan. Entah itu dalam bentuk memancing, “tawu”, atau “gagab”. Tawu dan gagab saya sendiri tidak tahu istilah dalam bahasa Indonesianya, tapi mungkin nanti bisa saya ceritakan proses melakukannya.

Memancing mungkin sudah sangat lazim dilakukan dan pasti semua orang sudah familiar dengan istilah ini. Memancing juga salah satu kegiatan yang paling sering saya lakukan karena tidak tergantung dengan kondisi sungai ataupun musim. Tempat yang paling favorite untuk memancing waktu itu adalah di belakang Balai Desa. Di tempat itu terdapat kalen (sungai kecil) dengan arus yang tenang sehingga menjadi habibat yang ideal untuk ikan.

Berbekal dengan walesan (jorang) dari bambu buatan sendiri dan beberapa cacing yang dibungkus dengan daun pisang, prosesi memancing sudah bisa dilakukan dengan sangat menyenangkan. Walaupun ikan yang diperoleh tidak bisa dibilang banyak karena paling cuman dapat 3-5 ekor ikan saja namun memancing ditempat itu menjadi sesuatu yang menarik karena dibumbui dengan guyonan-guyonan dengan teman. Hasil dari memancing juga biasanya tidak dikonsumsi, tapi lebih dijadikan sebagai hewan peliharaan di kolam kecil di rumah.

Berbeda dengan memancing, tawu dan gagab hanya bisa dilakukan ditempat-tempat dengan jumlah air yang sedikit. Biasanya dilakukan saat pertengahan musim kemarau karena biasanya saat itu sungai-sungai kecil mulai mengering.

Gagab dilakukan dengan menjulurkan kedua tangan membentuk sebuah gua untuk menangkap ikan. Gagap hanya bisa dilakukan di tempat dengan air paling dalam setinggi mata kaki dan air cukup jernih agar kelihatan ikan-ikan yang dicari. Gagab ini membutuhkan keterampilan yang cukup tinggi sehingga tidak semua orang bisa melakukannya,saya sendiri termasuk tidak mahir melakukannya.

Lain cerita lagi dengan gagab, tawu biasanya dilakukan oleh lebih dari 2 orang. Dan biasanya ikan yang ditangkap juga akan lebih banyak. Tawu dimulai dengan membuat sekat di kalen sehingga dimungkinkan untuk menguras air di bagian yang disekat tersebut. Setelah sekat dibuat dan dipastikaan tidak bocor, proses pengosongan air pun segera dilakukan. Dengan menggunakan ember seadanya kami biasanya bergantian untuk melakukan tawu (mengambil air dan membuangnya ketempat lain) Tawu biasanya akan membutuhkan tenaga extra tergantung banyaknya air dan luas daerah yang disekat.

Selain 3 bentuk kegiatan di atas sebenarnya masih banyak lagi bentuk-bentuk kegiatan yang bisa dilakukan untuk mencari ikan. Namun memancing, gagab, dan tawu merupakan kegiatan dengan modal yang paling minimal.

Kegiatan mencari ikan selalu menyenangkan, entah bagaimanapun kondisinya tapi perasaan menghibur selalu tersaji walaupun bukan berarti tanpa resiko..

Kebenaran atau Kekuasaan di Pansus Century?

Posted in My Opinions by ahmadsutanto on February 27, 2010

Setelah sekian lama tidak pernah lagi melihat dan menyimak televisi. Dalam 3 hari libur ini saya banyak sekali melihat dan menyimak berita tentang pansus Century. Jika diawal dibentuknya pansus tersebut tidak terlalu menarik perhatian saya tapi ending pansus ini ternyata cukup menarik. Sebenarnya saya bukanlah orang yang terlalu tertarik dengan masalah politik. Namun proses penarikan kesimpulan dan lobi-lobi politik yang banyak dilakukan telah menggelitik saya.

Pansus Century yang berusaha untuk menguak kebenaran proses bail out Bank Century telah memberikan beberapa pandangan kepada publik apa yang sebenarnya terjadi saat bail out dilakukan. Begitu juga pihak-pihak yang bertanggung jawab dengan kasus tersebut. Point yang menggelitik saya bukannya siapa yang bersalah dalam kasus tersebut atau apakah memang ada unsur politik yang terjadi dalam kasus bail out? Tapi adalah kemauan para politikus untuk mengungkapkan kebenaran. Pansus Century ini seperti semakin membuat saya anti dengan politik. Kebenaran yang seharusnya bisa ditunjukkan/ditemukan dengan gamblang sepertinya susah sekali untuk diwujudkan.

Kesan yang terjadi adalah perebutan kekuasaan pemerintahan. Begitulah yang sejauh ini saya lihat. Presiden yang dulu pernah mengungkapkan untuk membuka kasus Century segamblang-gamblangnya terkesan menutupi kasus tersebut dengan melakukan lobi-lobi politik. Padahal kalau memang presiden (dan pihak yang mendukungnya) menghendaki kebenaran yang sesungguhnya tentu saja dia akan mendukung semua usaha untuk mengungkapkan kebenaran. Dan apabila kebenaran sudah terbukti presiden harusnya legowo dan menghormati Sedangkan pada pihak-pihak yang ingin mengungkapkan kasus Century ini seakan-akan telah mengincar posisi yang akan ditinggalkan jika memang terbukti melakukan kesalahan.

Kesan yang kedua adalah adanya suatu rezim yang dibentuk oleh pihak yang berkuasa saat ini. Rezim yang selalu berusaha untuk melindungi seluruh aspek penguasa yang mereka anggap tidak pernah melakukan kesalahan. Entah apa yang membuat rezim tersebut seakan bisa menekan semua pihak untuk mengikuti kemauan mereka sehingga banyak pihak yang dulunya berkomitmen untuk mengungkapkan kebebaran secara gamblang menjadi terbiaskan saat menyampaikan pandangan akhir.

Sehingga semakin jelas bahwa di dalam dunia politik tidak ada kebenaran yang hakiki, yang ada adalah kepentingan yang hakiki. Yang kemudian menjadi pertanyaan adalah dimakah moral para politikus ini? Moral yang lebih mengedepankan kebenaran hakiki daripada kepentingan hakiki. Moral yang memihak rakyat yang telah memilih mereka. Moral yang tidak tercampuri dengan kekuasaan. Politik memang suatu alat untuk mendapatkan kekuasaan, tapi jangan sampai meninggalkan moral politik yang lebih penting daripada kekuasaan.

Sekedar guyonan tentang ketidaksukaan saya dengan politik dan demokrasi yaitu “saya lebih suka dengan raja/khalifah yang adil dan bijak daripada presiden dengan kualitas yang sama atau sedikit lebih baik”.

Aku Hanyalah Onggokan Sampah

Posted in Personal Issue by ahmadsutanto on January 9, 2010

Aku hanyalah onggokan sampah yang berjalan di muka bumi ini. Onggokan sampah yang telah mengotori keindahan ciptaanNya dengan perilaku-perilaku yang tidak sesuai dengan tuntunan yang telah diajarkan Rosulullah. Onggokan sampah yang masih menuruti hawa nafsu hingga lalai dengan kewajiban-kewajiban. Onggokan sampah yang masih melakukan hal-hal yang telah diharamkan. Onggokan sampah yang masih jauh dari cahayaMu.

Ya Allah aku tidak bermaksud untuk menghina penciptaanMu yang sempurna ini. Aku hanya sadar bahwa aku masih jauh dariMu. Sayangnya kesadaran ini tak jua membawaku untuk lebih dekat kepadaMu. Entah kekuatan setan yang sangat kuat telah membelenggu diri ini atau hawa nafsu telah membelenggu diri ini.

Ya Allah, maafkanlah hamba ini karena telah menjadi onggokan sampah yang mengotori muka bumi ini. Ya Allah tunjukkan selalu jalanMu yang benar, jalan yang telah diridhoi, dan jauhkanlah dari jalan-jalan yang ditempuh setan.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.