Kebenaran atau Kekuasaan di Pansus Century?
Setelah sekian lama tidak pernah lagi melihat dan menyimak televisi. Dalam 3 hari libur ini saya banyak sekali melihat dan menyimak berita tentang pansus Century. Jika diawal dibentuknya pansus tersebut tidak terlalu menarik perhatian saya tapi ending pansus ini ternyata cukup menarik. Sebenarnya saya bukanlah orang yang terlalu tertarik dengan masalah politik. Namun proses penarikan kesimpulan dan lobi-lobi politik yang banyak dilakukan telah menggelitik saya.
Pansus Century yang berusaha untuk menguak kebenaran proses bail out Bank Century telah memberikan beberapa pandangan kepada publik apa yang sebenarnya terjadi saat bail out dilakukan. Begitu juga pihak-pihak yang bertanggung jawab dengan kasus tersebut. Point yang menggelitik saya bukannya siapa yang bersalah dalam kasus tersebut atau apakah memang ada unsur politik yang terjadi dalam kasus bail out? Tapi adalah kemauan para politikus untuk mengungkapkan kebenaran. Pansus Century ini seperti semakin membuat saya anti dengan politik. Kebenaran yang seharusnya bisa ditunjukkan/ditemukan dengan gamblang sepertinya susah sekali untuk diwujudkan.
Kesan yang terjadi adalah perebutan kekuasaan pemerintahan. Begitulah yang sejauh ini saya lihat. Presiden yang dulu pernah mengungkapkan untuk membuka kasus Century segamblang-gamblangnya terkesan menutupi kasus tersebut dengan melakukan lobi-lobi politik. Padahal kalau memang presiden (dan pihak yang mendukungnya) menghendaki kebenaran yang sesungguhnya tentu saja dia akan mendukung semua usaha untuk mengungkapkan kebenaran. Dan apabila kebenaran sudah terbukti presiden harusnya legowo dan menghormati Sedangkan pada pihak-pihak yang ingin mengungkapkan kasus Century ini seakan-akan telah mengincar posisi yang akan ditinggalkan jika memang terbukti melakukan kesalahan.
Kesan yang kedua adalah adanya suatu rezim yang dibentuk oleh pihak yang berkuasa saat ini. Rezim yang selalu berusaha untuk melindungi seluruh aspek penguasa yang mereka anggap tidak pernah melakukan kesalahan. Entah apa yang membuat rezim tersebut seakan bisa menekan semua pihak untuk mengikuti kemauan mereka sehingga banyak pihak yang dulunya berkomitmen untuk mengungkapkan kebebaran secara gamblang menjadi terbiaskan saat menyampaikan pandangan akhir.
Sehingga semakin jelas bahwa di dalam dunia politik tidak ada kebenaran yang hakiki, yang ada adalah kepentingan yang hakiki. Yang kemudian menjadi pertanyaan adalah dimakah moral para politikus ini? Moral yang lebih mengedepankan kebenaran hakiki daripada kepentingan hakiki. Moral yang memihak rakyat yang telah memilih mereka. Moral yang tidak tercampuri dengan kekuasaan. Politik memang suatu alat untuk mendapatkan kekuasaan, tapi jangan sampai meninggalkan moral politik yang lebih penting daripada kekuasaan.
Sekedar guyonan tentang ketidaksukaan saya dengan politik dan demokrasi yaitu “saya lebih suka dengan raja/khalifah yang adil dan bijak daripada presiden dengan kualitas yang sama atau sedikit lebih baik”.

leave a comment