Masa Kecilku di Desa (bagian 1 – Mencari Ikan)
Liburan selama 5 hari ini sepertinya sudah cukup untuk membangkitkan kembali memori-memori saat masih anak-anak. Memori masa-masa menyenangkan dan penuh kebebasan tanpa beban. Memori yang tidak akan terlupakan karena saya senang dan bangga menjadi anak desa.
Seperti yang telah saya sebutkan di atas, saya dilahirkan di sebuah desa kecil yang cukup terpelosok. Sebuah desa dengan sebutan “Kranggan” entah apa makna dari nama tersebut. Desa Kranggan ini kenapa saya katakan cukup pelosok? Faktanya adalah desa ini sangat dekat dengan sungai Progo dan juga dengan laut Selatan. Oleh karena itu bisa dibilang ujung selatan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
Desa yang terpelosok ini ternyata menyimpan banyak hal yang sangat menarik untuk dijelajahi. Mungkin kalau dulu sudah ada “Bolang” mungkin masa kecil saya bisa dimasukkan dalam salah satu episodenya. Petualangan seorang bocah dengan beberapa temannya menjelajah daerahnya untuk menemukan kebahagiaan tinggal di desa atau hanya sekedar menghabiskan waktu di luar jam sekolah.
Salah satu hal yang paling senang saya lakukan dengan teman-teman saat kecil yaitu mencari ikan. Entah itu dalam bentuk memancing, “tawu”, atau “gagab”. Tawu dan gagab saya sendiri tidak tahu istilah dalam bahasa Indonesianya, tapi mungkin nanti bisa saya ceritakan proses melakukannya.
Memancing mungkin sudah sangat lazim dilakukan dan pasti semua orang sudah familiar dengan istilah ini. Memancing juga salah satu kegiatan yang paling sering saya lakukan karena tidak tergantung dengan kondisi sungai ataupun musim. Tempat yang paling favorite untuk memancing waktu itu adalah di belakang Balai Desa. Di tempat itu terdapat kalen (sungai kecil) dengan arus yang tenang sehingga menjadi habibat yang ideal untuk ikan.
Berbekal dengan walesan (jorang) dari bambu buatan sendiri dan beberapa cacing yang dibungkus dengan daun pisang, prosesi memancing sudah bisa dilakukan dengan sangat menyenangkan. Walaupun ikan yang diperoleh tidak bisa dibilang banyak karena paling cuman dapat 3-5 ekor ikan saja namun memancing ditempat itu menjadi sesuatu yang menarik karena dibumbui dengan guyonan-guyonan dengan teman. Hasil dari memancing juga biasanya tidak dikonsumsi, tapi lebih dijadikan sebagai hewan peliharaan di kolam kecil di rumah.
Berbeda dengan memancing, tawu dan gagab hanya bisa dilakukan ditempat-tempat dengan jumlah air yang sedikit. Biasanya dilakukan saat pertengahan musim kemarau karena biasanya saat itu sungai-sungai kecil mulai mengering.
Gagab dilakukan dengan menjulurkan kedua tangan membentuk sebuah gua untuk menangkap ikan. Gagap hanya bisa dilakukan di tempat dengan air paling dalam setinggi mata kaki dan air cukup jernih agar kelihatan ikan-ikan yang dicari. Gagab ini membutuhkan keterampilan yang cukup tinggi sehingga tidak semua orang bisa melakukannya,saya sendiri termasuk tidak mahir melakukannya.
Lain cerita lagi dengan gagab, tawu biasanya dilakukan oleh lebih dari 2 orang. Dan biasanya ikan yang ditangkap juga akan lebih banyak. Tawu dimulai dengan membuat sekat di kalen sehingga dimungkinkan untuk menguras air di bagian yang disekat tersebut. Setelah sekat dibuat dan dipastikaan tidak bocor, proses pengosongan air pun segera dilakukan. Dengan menggunakan ember seadanya kami biasanya bergantian untuk melakukan tawu (mengambil air dan membuangnya ketempat lain) Tawu biasanya akan membutuhkan tenaga extra tergantung banyaknya air dan luas daerah yang disekat.
Selain 3 bentuk kegiatan di atas sebenarnya masih banyak lagi bentuk-bentuk kegiatan yang bisa dilakukan untuk mencari ikan. Namun memancing, gagab, dan tawu merupakan kegiatan dengan modal yang paling minimal.
Kegiatan mencari ikan selalu menyenangkan, entah bagaimanapun kondisinya tapi perasaan menghibur selalu tersaji walaupun bukan berarti tanpa resiko..

wew.. kalo aku dulu gak ada acara mancing segala, cuma nyebur dan maen2 air aja, sungainya kecil sih…
pas ketahuan maen di sungai besar, dimarahin lah aku ma bapakku :D