Book of My Life

Indonesia dari Sudut Pandang Pemain AOE

Posted in Game, MyOpinion by ahmadsutanto on February 10, 2009

Bagi seorang penggemar game Age Of Empire (AOE) yang sudah setia dan sangat
menikmati game ini dari kelas 2 SMA sampai sekarang (hampir 7 tahun nih) kadang-kadang terbawa emosi untuk memandang sesuatu masalah dari sudut pandang AOE (yang ini joke). Nah bagaimana sudut pandang seorang pemain AOE tentang keadaan di Indonesia? Mari kita bahas satu persatu:

1. Wilayah Negara Indonesia
Negara Indonesia adalah negara kepulauan yang terdiri dari beribu-ribu pulau yang membentang dari Sabang sampai Merauke, negara ini juga mempunyai wilayah perairan laut yang paling luas di dunia. Maka tidak salah kalau seorang pemain AOE akan membuat Dock yang banyak dan kemudian membuat Fishing Ship dengan jumlah yang banyak untuk mendukung ekonomi Indonesia. Pembuatan Fishing Ship diharapkan tidak hanya untuk mencari ikan tetapi juga sebagai perangkat untuk membuka Map sehingga kapal ikan dari negara lain tidak bisa mencuri kekayaan laut Indonesia. Dock dibuat memutar melingkupi semua wilayah Indonesia sehingga semua daerah laut dapat tercover dengan kapal ikan. Setelah punya cukup banyak Dock dan Fishing Ship, kemudian dibutuhkan Galleon atau Fireship untuk menjaga wilayah perairan Indonesia. Galleon dan Fireship dibutuhkan untuk menghalang Galleon musuh menyerang kapal ikan nelayan Indonesia sehingga mereka merasa tenang untuk mengambil hasil laut. Selain
itu juga dibutuhkan agar transport ship musuh tidak bisa sampai ke daratan Indonesia untuk menurunkan Scout atau perkerjanya.

Setelah cukup dengan jumlah dock, fishing ship, dan Galleon, masih dibutuhkan suatu upgrade careening kemudian drydock sehingga mempermudah distribusi pekerja dari satu pulau ke pulau yang lain. Sehingga hanya dibutuhkan sedikit transport ship untuk mengantarkan pekerja dari pulau Jawa ke Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua. Mengingat negara kepulauan maka faktor ekonomi dari laut memegang peran yang sangat besar. Kekayaan alam yang ada berupa Ikan, Rumput Laut, Mutiara, dll harus benar-benar dimanfaatkan untuk memperkuat ekonomi.

2. Potensi Hutan dan Lahan Pertanian

Selain kekayaan laut, Indonesia mempunyai hutan dan lahan pertanian yang sangat luas, dan apabila kekayaan tersebut digunakan secara optimal akan memberikan kekuatan ekonomi yang sangat besar. Indonesia memang tidak seperti “Celtc” yang mempunyai bonus ekonomi pada pekerja pencari kayu, atau “Frank” yang mempunyai bonus research pertanian secara gratis, akan tetapi Indonesia mempunyai keragaman sumber daya alam yang menunggu untuk digunakan secara optimal. Jenis kayu seperti Bambu, Pohon Kelapa, Rotan hingga kayu Besi di Kalimantan masih belum dimanfaatkan secara optimal untuk kepentingan negara. Yang ada malahan pembalakan hutan dan penebangan liar yang kemudian dijual ke luar negeri untuk kepentingan pribadi dan lebih jelek lagi bisa memperkuat ekonomi negara musuh.

Nah yang diperlukan disini adalah pembangunan Lumber Camp yang strategis, diikuti dengan research double bit axe kemudian Bow Saw lalu Twoman Saw sehingga lebih mengoptimalkan pencarian kayu. Dari sisi pertanian, pembuatan Mill mutlak dilakukan, mill merupakan dasar pembuatan pertanian karena pada mill sistem irigasi yang sangat dibutuhkan pertanian bisa diatur. Dengan berdirinya mill maka kemudian dibutuhkan lagi research yang dapat mengoptimalkan pertanian yaitu Horse collar, Heavy Plow, dan Crop Rotation

3. Sumber Daya Tambang
Kekayaan sumber daya tambang juga tidak kalah banyaknya. Emas, Tembaga, Batu, dan Minyak tentunya (tapi karena minyak belum dikenal di AOE maka nggak dibahas disini). Miningcamp sangat dibutuhkan keberadaannya, research sekali lagi mempunyai peran yang sangat besar, jadi kita tidak perlu mendatangkan orang dari negara lain untuk mengeksploitasi kekayaan alam kita yang ujung-ujungnya mereka yang merasakan keuntungannya dan kita tinggal kebagian limbahnya. Kita harus belajar dari “Turki” bagaimana menambang emas dengan baik dan cepat juga dari bangsa “Korea” tentang tata cara menambang batu yang benar.

4. Sumber Daya Manusia yang Banyak
Di AOE kalo kita mempunyai villager (pekerja) yang banyak maka hampir bisa dipastikan kita mempunyai ekonomi yang kuat. Villager tersebut akan terus menerus menggali kekayaan alam agar bisa dioptimalkan. Dalam permainan AOE saya mempunyai semboyan “tidak ada pengangguran di negeri ini” jadi setiap ada 1 saja villager yang nganggur harus langsung dicarikan pekerjaan. Disini dituntut kepintaran peran pemerintah untuk memberikan lapangan pekerjaan bagi pengangguran. Distribusi pekerja juga sangat diperlukan agar ressource yang diperoleh tidak timpang sehingga bisa dimanfaatkan secara optimal. Sebagai contoh: terlalu banyak pekerja di pertanian, sehingga mengalami surplus pangan, tetapi masih kurang pekerja di sektor pertambangan, sehingga surplus pangan tersebut tidak bisa berarti banyak karena kekurangan emas. Akibatnya ressource tersebut tidak bisa digunakan untuk research teknologi atau pembuatan pasukan perang.

5. Market dan Perdagangan
Di AOE mengenal perdangan antar bangsa yang akan memberikan sumber emas tak terbatas. Di dunia nyata hal ini bisa dipraktekkan dengan bentuk kerja sama luar negeri. Kerja sama luar negeri mutlak dibutuhkan untuk mendukung perdangan yang lancar. Research Cartography juga dibutuhkan untuk agar kita bisa mendapatkan informasi yang telah didapatkan oleh negara yang lain yang telah menjalin kerja sama. Setelah Cartography baru kita bisa melakukan research Caravan yang bisa mempercepat ekspor impor.

6. Research yang Diperlukan
Selain research yang ada pada tiap-tiap bangunan, terdapat juga research yang lain yang dapat mendukung perekonomian dan angkatan perang. Research tersebut bisa diperoleh dari Blacksmith atau University. Sesuai dengan sumber daya alam dan culturenya, bangsa Indonesia akan membutuhkan research antara lain:

  • Fletching -> Bodkin Arrow -> Bracer untuk mendukung angkatan perang laut dan daya serang Town Center
  • Padded Archer Armor -> Leather Archer Armor -> Ring Archer Armor untuk mendukung pasukan panah yang dibanggakan di Indonesia
  • Treadmill crane agar pekerja Indonesia bisa membangun bangunan lebih cepat dan lebih baik
  • Masonry dan Architecture sehingga bangunan di Indonesia tahan gempa

7. Kekuatan Pemimpin
Setelah kekuatan ekonomi terpenuhi maka selanjutnya adalah kekuatan pemimpin. Seorang pemimpin yang mempunyai visi dan misi yang jelas dan mempunyai pengabdian terhadap negara yang besar. Pemimpin yang jeli terhadap musuh yang sedang dihadapi sehingga tau solusinya. Pemimpin yang merakyat sehinga dia tau akan kebutuhan rakyatnya. Dan pemimpin yang besar sehingga dia bisa memilih pasukan yang benar, bisa menggerakkan pasukan dengan efektif, bisa mengolah kekayaan negara untuk memenangkan peperangan AOE.

Garis merah yang bisa ditarik disini adalah:

  1. Indonesia mempunyai sumber daya alam yang melimpah, sehingga tidak semestinya Indonesia menjadi negara yang miskin.
  2. Dibutuhkan research (ilmu) agar kita mampu untuk memanfaatkan sumber daya yang ada
  3. Indonesia juga mempunyai penduduk yang banyak, sehingga sumber daya alam yang besar juga bisa dihandle dengan sumber daya manusia. selain itu dengan jumlah penduduk yang besar akan mampu menciptakan sistem ekonomi yang mandiri.
  4. Dibutuhkan Program dan Riset yang berkesinambungan antar pemerintah, jadi jangan sampai suatu program yang bagus berhenti ditengah jalan tanpa kelanjutan saat berganti tampuk kepemimpinan.

Sebagai penutup, semoga Indonesia mudah digerakkan untuk mencapai kemajuan semudah memainkan permainan AOE.

Penulis adalah seorang pemain AOE yang telah dari 7 tahun yang lalu mengenal game ini, tapi sampai sekarang belum bisa juga menjadi seoarang jendral kakakaka… nick yang sering dipake dalam game AOE dan Hamachi adalah “petapa”

yang masih belum tau istilah2nya silahkan cari sendiri :))

Tagged with: , ,

Selamat Tinggal Banjir Jakarta

Posted in MyOpinion by ahmadsutanto on February 9, 2009

Baru 2 bulan lebih sedikit saya tinggal di Jakarta, tapi dari rentang waktu tersebut saya sudah kurang lebih tahu seperti apa kondisi Jakarta. Dalam rentang waktu tersebut banyak image yang melekat pada diri saya tentang ibukota Indonesia ini. Sisi negatif maupun positif telah memberi saya gambaran mengapa banyak orang bilang ibukota lebih kejam daripada ibu tiri, akan tetapi itu tidak menghalangi mereka untuk tetap terus berdatangan. Image positif kota besar Jakarta harus tenggelam oleh banjir yang terus melanda daerah Jakarta dimusim hujan.

Sisi Positif Jakarta
Jakarta sebenarnya mempunyai beberapa image positif yang tidak mudah dilupakan. Beberapa hal yang menarik perhatian saya adalah daerah  dari Monumen Nasional sampai dengan Gelora Bung Karno. Daerah ini merupakan kawasan dimana pusat-pusat perekonomian dan pemerintahan berada, mulai dari kantor pemerintah, perusahaan-perusahaan swasta, mall, Bank Indonesia, hingga kedutaan asing. Kawasan ini mempunyai kesan bersih dan tertata rapi. Walaupun tidak bisa lepas dari kemacetan, tetapi hal itu tidak memberikan pengaruh yang berarti. Kondisi jalanan yang bagus, taman yang tertata rapi seakan membantah image yang melekat bahwa Indonesia merupakan daerah yang kumuh.

Disepanjang jalan tersebut juga terdapat beberapa bundaran dengan kehasan masing-masing. Kereta kencana berdiri menghadap bundaran Indosat dengan air mancur dan lampunya yang warna-warni, dilanjutkan dengan Bundaran Hotel Indonesia dengan air mancurnya, hingga patung Jendral  Soedirman yang berdiri kokoh. Stadion Gelora Bung Karno yang menjadi kebanggaan Indonesia juga seakan telah memberikan icon tersendiri bagi kemajuan bangsa Indonesia.

Tetapi sayang, kawasan tersebut hanya merupakan sebagian kecil kota Jakarta yang sebagian besar daerahnya merupakan kawasan kumuh.

Banjir, Masalah Utama Jakarta
Kemacetan, jalanan yang rusak, sanitasi yang buruk, gelandangan, dan yang paling utama adalah banjir. Banjir telah menjadi salah satu icon Jakarta dari waktu ke waktu. Banjir juga telah menyedot anggaran pemerintah daerah Jakarta hingga trilliunan rupiah, tapi sampai sekarang belum bisa memberikan hasil yang signifikan. Banjir kanal timur yang digadang-gadang akan mengatasi banjir di Jakarta sampai sekarang belum ada realisasinya. Alat yang didatangkan dari Belanda yang katanya bisa meberikan solusi terhadap sampah yang “terbawa” arus sungai juga belum bisa berbuat banyak.

Sebenarnya kita juga tidak bisa menyalahkan begitu saja dengan kebijakan pemerintah yang belum bisa mengatasi banjir di Jakarta. Kita juga harus bisa berintrospeksi diri mengapa banjir dapat terus menerus terjadi di Jakarta. Apakah kita sudah berbuat sesuatu yang setidaknya tidak menyebabkan banjir? Karena banjir yang melanda Jakarta tidak akan teratasi tanpa kerja-sama pemerintah dengan kesadaran masyarakat. Tentu saja kesadaran harus dimulai dari Pemerintah Daerah sebagai pemegang wewenang dan lembaga yang harus melayani masyarakat Jakarta. Kesadaran untuk bersama-sama mengatasi banjir.

Akar Masalah Banjir di Jakarta
Banjir, sebenarnya mempunyai akar masalah yang sebenarnya sangat sederhana, akan tetapi mempunyai solusi yang kompleks dan sulit dalam pelaksanaannya. Dari sudut pandang seorang awam yang tidak mempelajari masalah banjir secara mendalam, saya mempunyai pendapat bahwa akar masalah banjir di Jakarta bisa dibagi menjadi kelompok yaitu yang berhubungan dengan sungai, dan yang berhubungan dengan sistem drainase. Kedua masalah tersebut saling berhubungan dan mempunyai satu masalah klasik yaitu sampah. Bagaimanapun upaya yang dilakukan pemerintah untuk mebersihkan sungai atau membuat sistem drainase yang bagus tanpa kesadaran masyarakat untuk membuang sampah dengan benar maka pekerjaan tersebut akan sia-sia. Jadi, solusi yang utama dan terbaik untuk mengatasi banjir di Jakarta adalah mulai dari akar utama yaitu sampah.

Untuk mengatasi masalah utama tersebut terdapat beberapa alternatif solusi yang diambil oleh pemerintah:

  • Pembangunan tempat pembuangan sampah dan pengolahannya dan sistem pembuangan sampah yang benar sehingga masyarakat tidak akan berdalih untuk membuang sampah ke sungai atau ke dalam got karena merasa tidak ada tempat sampah.
  • Peraturan yang ketat tentang membuang sampah sembarangan. Tentu saja peraturan tersebut harus dibarengi dengan kontrol pelaksanaan yang ketat pula. Kredibilitas aparat menjadi sesuatu harga mutlak untuk dapat menegakkan peraturan tersebut.
  • Pengerukan sungai dan perbaikan sistem drainase dengan sistem padat karya. Sehingga, selain bisa mengatasi banjir juga dapat membuka lowongan pekerjaan.
  • Penertiban pemukiman yang berdiri di bantaran sungai sehingga memberikan ruang yang lebih untuk air hujan.

Lalu apa yang bisa kita lakukan? tentu saja kita berperan sebagai apa yang ada di dalam diri kita. Sebagai pemuda yang sadar akan dampak buruk sampah terhadap lingkungan, maka mulailah dari diri kita, jangan membuang sambah sampah sembarangan, berikan contoh terhadap orang-orang di sekeliling kita bahwa kita peduli dengan masalah sampah. Atau jika sudah menjadi seorang orang tua, kita bisa menasehati anak-anak dan memberikan contoh pada anak-anak tentang penangan sampah yang benar. Atau kebetulan kita menjadi seorang kepala RT/RW atau bahkan seorang kepala desa, kita bisa memberikan contoh dan penyuluhan tentang pentingnya penanganan sampah yang benar. Segala sesuatu bisa kita lakukan, namun tidak ada hasil instan dari proses ini karena segala sesuatu memang membutuhkan waktu. Lalu bagaimana dengan program pemerintah untuk menyadarkan masyarakatnya? Banyak hal yang bisa dilakukan pemerintah. Penyuluhan terhadap aparatur pemerintah, pemberian hadiah dan gelar tertentu terhadap aparat pemerintahan yang berhubungan langsung dengan masyarakat atau ditingkat bawah. Berikanlah hadiah bagi kepala RT/RW sehingga mereka terdorong untuk memberikan kontribusi yang nyata. Jangan berikan penghargaan kepada Gubernur atau kepala daerah tingkat II karena mereka hanya tau jadi dan tidak mengalami susahnya menangani sampah secara langsung. Berikanlah apresiasi kepada mereka yang benar-benar langsung terlibat dengan masalah sampah.

Jika kesadaran masyarakat akan sampah dan dampak buruknya telah melekat pada masyarakat maka saya yakin banjir tidak akan terjadi lagi di Jakarta. Pembentukan kesadaran memang tidak akan terjadi seketika, namun kita bisa memulainya sekarang dan dari diri kita sendiri.

Apapun Partainya, Indonesia Harus Bangkit

Posted in MyOpinion by ahmadsutanto on January 30, 2009

Pemilu partai politik (Parpol) di Indonesia yang akan kembali diselenggarakan pada 9 April 2009 mempunyai keunikan tersendiri, baik dari segi jumlah parpol maupun dari kebijakan pemerintah tentang parpol. Indonesia tercatat mempunyai 4 periode pemilu parpol yang mempunyai ciri masing-masing. Dimulai dari tahun 1955 atau 10 tahun setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya, pemilu parpol pertama diselenggarakan di Indonesia. Pemilu parpol pertama Indonesia diikuti 30an parpol dengan dasar hukum UU No. 7 Tahun 1953 dengan sifat langsung, umum, bebas, dan rahasia. Kesadaran berkompetisi yang sehat merupakan nilai positif dari pemilu pertama Indonesia. Namun setelah melangsungkan pemilu pertama, Indonesia kemudian memasuki periode Demokrasi Terpimpin yang dimulai dengan Dekrit Presiden 5 Juli 1959. Pada masa ini pemilu parpol tidak diselenggarakan kembali dengan pembentukan DPR-Gotong Royong (DPR-GR) dan MPR Sementara (MPRS).

Periode berikutnya pemilu parpol di Indonesia diselenggarakan lagi pada tahun 1971, atau tepatnya hari kelima pada bulan Juli 1971. Pemilu yang diikuti oleh 10 parpol ini dibarengi dengan beberapa intrik yang dilakukan pemerintah untuk menguntungkan Golkar. Periode pemilu 1971 merupakan awal mula kekuasaan 32 tahun Soeharto di Indonesia. Berbagai intrik dilakukan dengan tujuan menggalang kekuatan untuk melanggengkan Orde Baru.

Setelah dimulai dengan pemilu pada 1971, kekuasaan Orde Baru semakin kokoh diperlihatkan dengan menguasai 5 pemilu selanjutnya. Periode pelaksanaan pemilu tahun 1977-1997 praktis dikuasai Golkar sedangkan PPP dan PDI hanya menjadi pelengkap saja. UU No. 3 Tahun 1975 tentang Partai Politik dan Golkar digunakan sebagai senjata untuk membatasi jumlah parpol yang dapat mengikuti pemilu. Pada periode ini hanya 2 parpol (PPP dan PDI) dan Golkar yang dapat mengikuti pemilu. Dengan pelaksanaan pemilu yang seakan sudah pasti pemenangnya, demokrasi di Indonesia seakan tidak mempunyai nilai. Kekuasaan pemerintah begitu besar sehingga demokrasi hanya sekedar lambang saja.

Babak baru pemilu parpol di Indonesia dimulai pada tahun 1999 setelah dilengserkannya kekuasaan Orde Baru yang ditandai dengan salah satu ungkapan yang cukup terkenal yang secara garis besar berbunyi “saya tidak akan pathe’en bila tidak menjadi presiden”. Periode pemilu 1999 – sekarang merupakan periode pemilu yang dianggap paling demokratis karena tidak ada lagi campur tangan pemerintah ataupun kekuasaan tertentu. Jumlah parpol peserta pemilu 1999 juga mengalami penambahan yaitu menjadi 48 peserta.

Dari penyelenggaraan pemilu dari tahun 1955 – 2004 tentu mempunyai banyak nilai positif dan negatif yang mau tidak mau harus dialami oleh bangsa Indonesia. Nilai-nilai yang seharusnya sudah cukup untuk memberikan pengalaman kepada bangsa Indonesia untuk menatap pemilu 2009.

Pemilu ketiga pada era reformasi ini memberikan beban mental tersendiri bagi parpol dan elit politiknya untuk mendapatkan dukungan publik. Indonesia yang multidimensi memang menyajikan tantangan tersendiri kepada parpol untuk mendapatkan dukungan publik sehingga sering para elit parpol menempuh jalan-jalan yang tidak semestinya. Konsekuensi ini memang harus timbul dari sistem demokrasi dimana setiap orang bebas untuk menyalurkan pendapatnya. Konsekuensi yang bisa menjadi bumerang yang dapat menghancurkan bangsa ini bila tidak mendapatkan perhatian yang khusus.

Para elit politik yang duduk di parpol harusnya sadar akan tujuan utama penyelenggaraan pemilu. Bukan sekadar untuk memilih anggota DPR atau DPD akan tetapi tujuan lain yang lebih besar yaitu pembangunan bangsa Indonesia. Periode Pemilu 1999 dan 2004 merupakan proses pendewasaan politik yang harus bisa dijadikan dasar untuk menatap pemilu 2009 yang lebih baik. Intrik-intrik beli suara, penggelembungan suara, atau ketidak dewasaan parpol dengan tidak mengakui hasil pemilu seharusnya sudah tidak akan terjadi lagi pada pemilu 2009. Masyarakat Indonesia yang sejak 1999 sudah dijejaki dengan bermacam pemilihan umum seharusnya juga telah mempunyai kesadaran yang cukup tinggi agar tidak dengan mudah dibujuk rayu atau tipu daya yang sering dilancarkan parpol.

Pemilu yang telah banyak mempengaruhi bidang-bidang lain, tidak akan berjalan sia-sia bila kesadaran masyarakat dan elit parpol sadar akan arti penting pemilu ini. Sehingga diharapkan dengan pemilu 2009 akan dapat terpilih wakil rakyat yang dapat membawa bangsa Indonesia untuk bangkit dan maju dimulai dengan bangkit dari krisis global yang sedang terjadi.

*saya sendiri sampai dengan pemilu 2004 masih belum percaya dengan para elit parpol dan manuver-manuver yang dilakukannya. Sehingga Pada tahun 2004 dimana saya pertama kali mempunyai Hak untuk memilih, saya menggunakan hak tersebut untuk memilih tidak memilih partai politik manapun. Akan tetapi pada pemilu 2009 nanti, dengan meningkatnya kedewasaan politik dan lebih mengenalnya manuver-manuver yang telah dilakukan partai politik, saya berjanji untuk menggunakan hak pilih saya dengan lebih baik dengan cara memilih salah satu parpol peserta pemilu.

source:
- Sejarah Pemilu : http://www.kpu.go.id

Ada Obama Dibalik Agresi Israel?

Posted in MyOpinion by ahmadsutanto on January 23, 2009

Agresi militer Israel yang dilancarkan selama 23 hari sejak 27 Desember 2008 yang lalu telah meninggalkan bekas luka yang mendalam bagi warga Palestina dan seluruh masyarakat dunia. Sebanyak 1300 orang meninggal dunia 5300 orang terluka dan banyak bangunan yang rusak parah hingga hancur. Agresi militer yang menuai protes keras dari seluruh penjuru dunia telah dihentikan hanya 2 hari sebelum pelantikan Obama sebagai presiden Amerika Serikat dengan bentuk gencatan senjata sepihak dari militer Israel.

Pemerintah Israel sepertinya telah memanfaatkan momentum terakhir kekuasaan George W. Bush sebagai penguasa negeri Paman Sam tersebut. Israel nampaknya tidak mau melewatkan momentum kebijakan luar negeri Amerika Serikat pimpinan Bush yang lebih mengedepankan kekuatan militer untuk menghadapi kekuatan yang mereka sebut dengan “teroris”. Setelah Bush melakukan serangan terhadap Afganistan dan Irak, Israel tidak mau ketinggalan dan tidak mau kehilangan kesempatan untuk melakukan serangan terhadap Hamas. Agresi tersebut ditujukan sekedar untuk “memberi pelajaran” atau untuk menunjukkan kekuatan militernya.

Akan tetapi mengapa agresi militer tersebut dilakukan dalam 1 bulan terakhir sebelum kekuasaan Bush bearkhir? Padahal serangan roket dari Hamas telah dilakukan sejak lama. Waktu satu bulan dirasa sudah cukup untuk melancarkan serangan terhadap Hamas dan menunjukkan kepada Hamas bahwa Israel mempunyai kekuatan yang dapat menghancurkan Palestina dengan mudah. Dan mengapa pula agresi itu diakhiri hanya dalam jangka 2 hari sebelum pelantikan Obama?

Kharisma Obama yang ingin membawa arah kebijakan luar negeri pemerintah AS, khususnya kebijakan terhadap terorisme telah memberikan pengaruh tersendiri buat Israel. Israel seperti sudah tau bahwa setelah terpilihnya Obama sebagai presiden Amerika akan membawa perubahan yang cukup drastis tentang kebijakan luar negeri AS. Terbukti hanya beberapa jam setelah pelantikan, Obama langsung mengeluarkan surat penutupan penjara Guantanamo yang selama ini telah digunakan pemerintah AS untuk “menyiksa” tahanan yang berkaitan dengan terorisme. Kebijakan yang sangat drastis bila dibandingkan dengan pendahulunya yang lebih mengedepankan kekuatan militer dan kekerasan.

Meskipun belum bisa dikatakan benar-benar terbukti perubahan kebijakan yang diusung Obama, tapi Israel telah mengantisipasi hal tersebut dengan melancarkan serangannya ke Jalur Gaza terlebih dahulu, dan sejauh ini mereka menganggap bahwa agresinya telah berhasil untuk memberi pelajaran terhadap Hamas. Dengan Obama yang memimpin Amerika, Israel bisa jadi tidak akan mendapatkan dukungan militer dan ekonomi seperti yang selama ini mereka telah dapatkan.

Dengan sinyalemen penghentian agresi Israel dan penutupan penjara Guantanamo diharapkan bisa menjadi awal mula terwujudnya kedamaian dunia tanpa ada superioritas negara.

Tagged with: ,

Agresi Militer Israel = Buah dari Benih-Kesalahan Negara Islam

Posted in MyOpinion by ahmadsutanto on January 17, 2009

Agresi militer Israel yang telah memakan korban 1000 warga tewas dan lebih dari 4500 warga lainnya terluka (kompas 15/01), telah memberikan kesedihan tersendiri bagi umat Islam di dunia. Penderitaan warga Palestina yang seakan tanpa henti telah menimbulkan reaksi yang beragam dari negara-negara Islam. Protes hingga kutukan terhadap agresi militer telah dilayangkan. Namun hal tersebut seakan tidak berdaya untuk menghentikan agresi militer Israel yang telah dilakukan sejak 27 Desember 2008 yang lalu. Israel yang mendapatkan dukungan dari negara adidaya Amerika Serikat tetap melancarkan serangan demi serangan ke Rafah dan jantung kota Gaza.

Dialog yang digelar negara-negara arab bahkan hanya menimbulkan saling tuding diantara mereka (kompas 14/01). Negara arab memang sedang mengalami suatu dilema yang sangat besar. Kekuatan besar Israel dengan segala persenjataan dan dukungan dibelakangnya harus dikonfrontasikan dengan derita ribuan rakyat muslim Palestina. Bantuan ke Palestina berupa sikap yang tegas akan membawa masalah di jalur Gaza merambat keseluruh dunia. Kekuatan minyak dari negara-negara OPEC juga tidak mampu memberikan tekanan yang berarti pada Israel dan sekutunya.

Negara-negara Islam telah kehilangan kejayaannya. Kehebatan pasukan Islam pada abad 6-16M sudah tidak terlihat lagi sekarang. Kekuatan kekhalifahan yang mampu menguasai sungai Indus, India bagian utara hingga perbatasan Cina tahun 750M. Dilanjutkan oleh kesultanan Seljuks yang menguasai Baghdad dan mengalami kejayaan pada abad ke-12. Pemerintahan Ottoman pada 1453M bahkan mampu menguasai Constantinople dan mampu mengembangkan kekuasaannya hingga Eropa-Budapest-Ukraina termasuk sampai wilayah yang sekarang bernama Yunani pada abad ke-16.

Dunia “barat” tidak lagi menganggap kekuatan negara-negara Islam sebagai kekuatan yang menakutkan. Negara-negara Islam saat ini telah kehilangan wibawanya. Mereka seakan tidak mampu berbuat banyak diera teknologi sekarang ini.

Berkutat dengan masalah mazhab

Persatuan diantara masyarakat muslim tidak terjalin. Saudara seiman yang selalu didengungkan masyarakat muslim yang seharusnya menjadi perekat tidak mampu membawa persatuan diantara masyarakat muslim. Namun mereka malah terlalu sibuk membela mazhab-mazhab masing-masing dan merasa yang paling benar. Bentrokan-bentrokan yang didasari dengan mazhab yang berbeda juga sering timbul.

Masyarakat Sunni dan Syiah di Irak merupakan salah satu contoh nyata. Mereka saling melemahkan dan berupaya menunjukkan diri sebagai yang terbesar dan mempunyai pengaruh paling luas. Syiah yang mendukung pemerintahan boneka bentukan Amerika Serikat berusaha untuk melebarkan pengaruhnya untuk menarik simpati warga. Sedangkan Sunni juga tidak mau kalah dan tetap ingin menunjukkan kekuatannya dengan jalan yang lebih ekstrim dengan melancarkan serangan bom bunuh diri untuk menghancurkan pemerintahan boneka AS. Sunni seakan menunjukkan bahwa mereka masih mempunyai kekuatan yang harus diperhitungkan.

Indonesia sebagai negara dengan penduduk mayoritas muslim juga tidak terlepas dari masalah tersebut. Walaupun tidak sekeras yang terjadi di Irak, tapi perbedaan mazhab yang dianut masyarakat muslim Indonesia cukup memberikan dampak yang buruk. Perbedaan pendapat yang mengemuka telah memberikan jurang pemisah yang sangat dalam sehingga persatuan antar jamaah dengan mazhab yang berbeda hampir mustahil dilakukan. Persatuan yang bisa membawa Islam dan negara yang ditempatinya seakan tertutupi ego masing-masing jamaah untuk menjadi yang terbesar dan paling benar.

Revitalisasi agama yang berkembang diera globalisasi belum membawa hasil yang signifikan. Perkembangannya tergerus oleh perbedaan mazhab yang selalu sibuk diperdebatkan. Perdebatan tentang hubungan agama dengan negara, kesesuaian Islam dengan deomkrasi dan lain-lain dilakukan tanpa ujung dan simpul.

Pengelolaan kekayaan yang salah

Negara-negara Islam di dunia, saat ini dalam kondisi ekonomi yang memprihatinkan. Kemiskinan dan keterbelakangan telah menjadi image yang melekat kuat. Padahal 75% kekayaan emas hitam (minyak bumi) yang menjadi komoditi internasional berada di dalam perut bumi negara Islam. Produksi minyak negara-negara Islam yang tergabung ke dalam OPEC telah mencapai 40% dari total produksi minyak dunia. Namun hasil alam tersebut hanya dinikmati oleh kalangan elit tertentu untuk kesejahteraan dan kemewahan pribadi.

Kekayaan negara-negara Arab sebenarnya tidak bisa dibilang kecil. Arab Saudi, sebuah negara pusat peradaban Islam merupakan salah satu negara pengekspor minyak terbesar di dunia. Pendapatan Arab Saudi pada tahun 2008 mencapai 120 miliar dolar Amerika. Selain Arab Saudi, masih terdapat Dubai, Qatar, dan Uni Emirat Arab yang mempunyai pendapatan yang sangat besar dari minyak maupun perdagangan. Akan tetapi pemanfaatan kekayaan yang dimilikinya terlihat tidak mampu membawa negara-negara Islam menjadi sesuatu kekuatan yang diperhitungkan di dunia.

Kekayaan yang seyogyanya dapat digunakan sebagai modal untuk mengembangkan teknologi ternyata pada kenyataannya lebih banyak digunakan untuk kemewahan dan ajang untuk menyombongkan diri. Tercatat 7 gedung tertinggi di dunia berdiri di Dubai dan 1 gedung lagi berdiri di Arab Saudi. Tidak cukup dengan itu, berbagai pulau buatan dibangun disekitar wilayah Dubai. Negara-negara tersebut seakan terlena dengan metafora kenyamanan dan keamanan yang telah dibentuk oleh Amerika.

Disisi lain, negara dan kelompok yang telah mendapatkan penindasan dari Amerika dan sekutunya berusaha untuk melakukan perlawanan dan pembalasan. Berbagai cara dilakukan untuk mewujudkannya. Cara yang paling ekstrim adalah perlawanan dengan bom bunuh diri, cara yang mereka anggap paling efektif dan murah. Bentuk perlawanan tersebut yang kemudian membawa negara Islam terkenal sebagai negara teroris.

Bentuk perlawanan yang sebenarnya tidak akan terjadi bila negara-negara Islam mampu menunjukkan kekuatan dan kesatuannya. Kekuatan dan kesatuan baik dalam ekonomi, sosial, politik, maupun kekuatan teknologinya.

Tagged with: , ,
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.